Abdul Rauf Singkel
A. Riwayat Hidup
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf
bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili.[1] Menurut riwayat masyarakat, keluarganya
berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada
akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri.
Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh.
Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia
belajar pada berbagai ulama di Timur
Tengah untuk mendalami agama Islam.
Ada dua legenda yang dikaitkan dengan Abdul
Rauf Singkel. Legenda pertama menyatakan bahwa ia adalah mubaligh pertama yang
mengislamkan Aceh.[2]Legenda kedua menyatakan bahwa
khotbah-khotbahnya telah membawa “para pelacur” dari “bordil”, yang konon
dibuka oleh Hamzah Fansuri di ibukota Aceh, untuk kembali ke jalan yang benar.[3] Braginsky (1998) menegaskan bahwa kedua
legenda itu tentu saja tidak sesuai dengan kebenaran sejarah.
Namun, tentang peranan Abdul Rauf sebagai muslim, ulama dan pendakwah yang berpengaruh dalam kedua legenda tersebut,
tentu saja tidak bisa disangkal. Arah gagasannya selalu praktis. Sebagai
seorang muslim ia selalu menaruh perhatian besar pada
murid-muridnya. Karya-karyanya selalu bertolak dari perhatiannya yang demikian
itu, yaitu untuk membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik lagi,
menasehati mereka supaya tidak tertimpa musibah, memperteguh kesalehan mereka,
dan menghindarkan mereka dari tindakan salah dan tidak toleran.[4]
Abdul Rauf Singkel, yang bernama panjang Syeh
Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili, lahir di Fansur, lalu
dibesarkan di Singkil pada awal abad ke-17 M. Ayahnya adalah Syeh Ali Fansuri,
yang masih bersaudara dengan Syeh Hamzah Fansuri. A. Rinkes memperkirakan bahwa
Abdul Rauf lahir pada tahun 1615 M. Ini didasarkan perhitungan, ketika Abdul
Rauf kembali dari Mekah, usianya antara 25 dan 30 tahun.[5]
Namun, Abdul Hadi WM (2006) menyatakan bahwa perkiraan itu bisa meleset, karena
Abdul Rauf berada di Mekah sekitar 19 tahun, dan kembali ke Aceh pada 1661.
Bila dalam usia 30 tahun ia kembali dari Mekah, berarti ia dilahirkan pada
1630.
Selama sekitar 19 tahun menghimpun ilmu di
Timur Tengah, Abdul Rauf tidak hanya belajar di Mekah saja. Ia juga mempelajari
ilmu keagamaan dan tasawuf di bawah bimbingan guru-guru yang termasyhur di
Madinah. Di kota ini, ia belajar kepada khalifah (pengganti) dari
tarekat Syattariyah, yaitu Ahmad Kusyasyi dan penggantinya, Mula Ibrahim Kurani.[6]
Dalam kata penutup salah satu karya tasawufnya, Abdul Rauf menyebutkan
guru-gurunya. Data yang cukup lengkap tentang pendidikan dan tradisi pengajaran
yang diwarisinya ini merupakan data pertama tentang pewarisan sufisme di
kalangan para sufi Melayu. Ia juga menyebutkan beberapa kota Yaman (Zabit,
Moha, Bait al-Fakih, dan lain-lain), Doha di Semenanjung Qatar, Madinah, Mekah,
dan Lohor di India. Di samping itu, ia juga menyebutkan daftar 11 tarekat sufi
yang diamalkannya, antara lain Syattariyah, Kadiriyah, Kubrawiyah, Suhrawardiyah,
dan Naqsyabandiyah.[7]
Sepeninggal Ahmad Kusyasyi, Abdul Rauf
memperoleh izin dari Mula Ibrahim Kurani untuk mendirikan sebuah sekolah di
Aceh. Sejak 1661 hingga hampir 30 tahun berikutnya, Abdul Rauf mengajar di
Aceh. Liaw Yock Fang (1975) menyebutkan bahwa muridnya ramai sekali dan datang
dari seluruh penjuru Nusantara. Dan, karena pandangan-pandangan keagamaannya
sejalan dengan pandangan Sultan Taj al-‘Alam Safiatun Riayat Syah binti Iskandar
Muda (1645-1675), Abdul Rauf kemudian diangkat menjadi Syeikh Jamiah al-Rahman
dan mufti atau kadi dengan sebutan Malik al-Adil, menggantikan Syeh Saif
al-Rijal yang wafat tidak lama setelah ia kembali ke Aceh.[8]
Selain itu, ia juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menolak berkuasanya
seorang raja perempuan.[9]
Walaupun disibukkan oleh tugas mengajar dan
pemerintahan, Abdul Rauf masih sempat menulis berbagai karya intelektual dan juga
karya sastra berbentuk syair, banyak di antaranya yang masih tersimpan
sampai sekarang.
Mulanya, ketika dititahkan oleh Sultanah untuk
menulis Mir‘at al-Tullab pada 1672, ia tidak bersedia karena merasa
kurang menguasai bahasa Melayu setelah lama bermukim di Haramayn (Arab Saudi).
Tetapi setelah mempertimbangkan masak-masak perlunya kitab semacam ini ditulis
dalam bahasa Melayu, ia pun mengerjakannya, dengan dibantu oleh dua orang
sabahat (Zalila Sharif dan Jamilah Haji Ahmad dalam Abdul hadi WM, 2006: 243).
Oman Fathurrahman (dalam Osman, 1997: 242) mencatat bahwa karyanya tidak kurang
dari 36 kitab berkenaan dengan fikih dan syariat, tasawuf, dan tafsir Al-Qur‘an
dan hadis.
Pengaruh Abdul Rauf juga mencapai umat Islam
di Jawa. Braginsky (1998) menyebutkan bahwa Abdul Rauf pernah berkunjung ke
Banten. Sedangkan Liaw Yock Fang (1975) menyebutkan bahwa salah satu karya
Abdul Rauf dikutip dalam sebuah risalah sufi yang terkenal di Jawa. Sementara
itu, tarekat Syattariyah, yang juga banyak penganutnya di Jawa, membubuhkan
nama Abdul Rauf dalam silsilah para sufi besar penganut tarekat tersebut.
Sehingga, Abdul Rauf jelas dikenal oleh orang-orang Jawa yang menganutnya.
Barangkali yang paling diingat orang tentang
Abdul Rauf adalah bahwa ia berpenting sekali dalam menengahi silang pendapat
antara Nuruddin al-Raniri dan Hamzah Fansuri tentang aliran wujudiyyah.
Braginsky (1998) telah menguraikan pendekatan Abdul Rauf yang lebih sejuk dan
damai terhadap aliran yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri tersebut.
Ketika wafat pada tahun 1693, denganberusia 73 tahun. Abdul Rauf dimakamkan di muara sebuah sungai di Aceh, di
samping makam Teuku Anjong yang dikeramatkan oleh orang Aceh,[10]
sehingga ia dikenal juga sebagai Syeh Kuala atau Tengku di Kuala.[11]
B. Pemikiran
1. Tasawuf
Dalam banyak tulisannya, Abdul Rauf Singkel
menekankan tentang transendensi Tuhan di atas makhluk ciptaan-Nya. Ia
menyanggah pandangan wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam
makhluk ciptaan-Nya. Dalam karyanya yang berjudul Kifayat al-Muhtajin,
Abdul Rauf berpendapat bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam semesta, Dia
menciptakan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad inilah Tuhan kemudian
menciptakan permanent archetypes (al-a‘yan al-kharijiyyah), yaitu
alam semesta yang potensial, yang menjadi sumber bagi exterior archetypes (al-a‘yan
al-kharijiyyah), bentuk konkret makluk ciptaan. Selanjutnya, Abdul Rauf
menyimpulkan bahwa walaupun a‘yan al-kharijiyyah adalah emanasi
(pancaran) dari Wujud Yang Mutlak, ia tetap berbeda dari Tuhan. Abdul Rauf
mengumpamakan perbedaan ini dengan tangan dan bayangannya. Walaupun tangan
sangat sukar untuk dipisahkan dari banyangannya, tetapi bayangan itu bukanlah
tangan yang sebenarnya.[12]
Secara
umum, Abdul Rauf ingin mengajarkan harmoni antara syariat dan sufisme. Dalam
karya-karyanya ia menyatakan bahwa tasawuf harus bekerjasama dengan syariat.
Hanya dengan kepatuhan yang total terhadap syariat-lah maka seorang pencari di
jalan sufi dapat memperoleh pengalaman hakikat yang sejati. Pendekatannya ini
tentu saja berbeda dari pendekatan Nuruddin al-Raniri yang tanpa kompromi.
Abdul Rauf cenderung memilih jalan yang lebih damai dan sejuk dalam
berinteraksi dengan aliran wujudiyyah. Maka, walaupun ia menentang
aliran yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri itu, ia tidak menyatakannya secara
terbuka. Lagipula, ia juga tidak setuju dengan cara-cara radikal yang ditempuh
oleh Nuruddin.[13]
Menariknya, dalam karya-karyanya ia tidak
menyebut Nuruddin al-Raniri, yang karya-karyanya mungkin sekali telah
dikenalinya, tetapi seolah-olah mengisyaratkan peristiwa tragis yang pernah
terjadi, melalui kutipan sebuah hadis: “Jangan sampai terjadi seorang muslim
menyebut muslim lain sebagai kafir. Karena jika ia berbuat demikian, dan memang
demikianlah kenyataannya, lalu apakah manfaatnya. Sedangkan jika ia salah
menuduh, maka tuduhan ini akan dibalikkan melawan ia sendiri”.[14]
Dengan caranya yang lebih damai ini, ia dapat
menahan berkembangnya heterodoksi dalam Islam yang disebabkan oleh tafsir yang
kurang tepat terhadap ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani.[15]
Penekanannya tentang pentingnya syariat dalam
tasawuf muncul dalam Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin
(Pijakan bagi Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf). Di dalam kitab ini,
Abdul Rauf menguraikan masalah zikir. Zikir adalah dasar dari tasawuf dan
karena itu merupakan metode yang penting dalam disiplin kerohanian sufi. Abdul
Rauf membagi zikir menjadi dua, yaitu zikr hasanah dan zikir darajat.
Zikir yang pertama tidak mengikuti aturan tertentu, sedangkan zikir yang kedua
terikat aturan yang ketat.[16]
Zikir darajat dilakukan setelah
seseorang bertobat, kemudian menjalani upacara tertentu seperti duduk bersila
menyilangkan dua kaki dan berpakaian bersih, menghadap kiblat, memilih tempat
yang gelap agar dapat berkonsentrasi dan memejamkan mata. Setelah itu ia mulai
berzikir, mengucapkan kalimat la ilaha Illa Allah. Kalimat ini dibaca
dengan irama tertentu sambil menggoyang-goyangkan kepala. Zikir dilakukan
dengan nafas teratur, lidah menyentuh langit-langit bagian belakang, sembari
mengucapkan kalimat la ilaha Illa Allah dengan pikiran. Biasanya 24
kalimat itu diucapkan baru nafas dihela.[17]
Abdul
Rauf mengajarkan dua metode zikir, yaitu zikir keras (jabr) dan zikir
pelan (sirr). Zikir keras dimulai dengan zikir nafiy
(pengingkaran) dan isbat (penegasan), yaitu mengucap la ilaha Illa
Allah berulangkali. Zikir ini mengandung penegasan untuk mengingkari selain
Tuhan dan peneguhan bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah Ta‘ala. Ini dapat
dibaca juga dalam Syair Perahu. Di samping itu terdapat zikir gaib
dengan mengucap Hu Allah dan zikir penyaksian (al-syahadah)
dengan mengucapkan Allah, Allah. Zikir pelan dilakukan dengan nafas
teratur, dengan membayangkan kalimat la ilaha saat menghela nafas dan illa
Allah saat menarik nafas ke dalam hati. Tujuan zikir ini adalah pemusatan
diri, bukan untuk membayangkan kehadiran gambar Tuhan seperti dalam praktik
Yoga Pranayama.[18]
Semua ajaran tasawuf didasarkan pada gagasan
sentral Islam yang sama, yaitu tauhid, tetapi para sufi mempunyai
beragam cara dalam menafsirkannya. Dasar pandangan Abdul Rauf tentang tauhid
antara lain tertera dalam kitab Tanbih al-Masyi. Ia mengajarkan agar
murid-muridnya senantiasa mengesakan al-Haq (Yang Maha Benar) dan
menyucikan-Nya dari hal-hal yang tidak layak baginya, yaitu dengan mengucap la
ilaha Illa Allah. Kalimat ini mengandung empat tingkatan tauhid. Pertama,
penegasan penghilangan sifat dan perbuatan pada diri yang tidak layak disandang
Allah. Tiga tingkatan tauhid berikutnya adalah uluhiya, yaitu mengesakan
ketuhanan Allah, sifat, yaitu mengesakan sifat-sifat Allah, dan zat,
mengesakan Zat Tuhan.[19]
Menurut
Abdul Rauf, “Salah satu bukti keesaan Allah SWT adalah tidak rusaknya alam.
Allah berfirman, ‘Sekiranya di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain
Allah, tentulah keduanya itu telah rusak dan binasa‘.” Berangkat dari
pengetahuan inilah kemudian ia membicarakan hubungan ontologis atau kewujudan
antara Pencipta dan ciptaan-ciptaan-Nya, antara Yang Satu dan “yang banyak”,
antara al-wujud dan al-maujudat. Alam adalah wujud yang terikat
pada sifat-sifat mumkinat atau serba mungkin. Oleh karena itu alam
disebut sebagai sesuatu selain al-Haq.[20]
2. Syariat
Abdul Rauf Singkel juga menulis kitab dalam
bidang syariat. Yang terpenting adalah Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah
al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu
untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara‘ dari Tuhan, bahasa Melayu). Kitab ini
merupakan kitab Melayu terlengkap yang membicarakan syariat. Sejak terbit,
kitab ini menjadi rujukan para kadi atau hakim di wilayah Kesultanan Aceh.
Dalam kitabnya ini, Abdul Rauf tidak membicarakan fikih ibadat, melainkan tiga
cabang ilmu hukum Islam dari mazhab Syafii, yaitu hukum mengenai perdagangan
dan undang-undang sipil atau kewarganegaraan, hukum perkawinan, dan hukum tentang
jinayat atau kejahatan.[21]
Bidang
pertama termasuk fikih muamalah dan mencakup urusan jual beli, hukum
riba, kemitraan dalam berdagang, perdagangan buah-buahan, sayuran,
utang-piutang, hak milik atau harta anak kecil, sewa menyewa, wakaf, hukum
barang hilang, dan lain-lain. Bidang yang berkaitan dengan perkawinan mencakup
soal nikah, wali, upacara perkawinan, hukum talak, rujuk, fasah, nafkah, dan
lain-lain. Sedangkan jinayat mencakup hukuman pemberontakan, perampokan,
pencurian, perbuatan zinah, hukum membunuh, dan lain-lain.[22]
3. Tafsir
Dalam bidang tafsir, Abdul Rauf menghasilkan
karya berjudul Tarjuman al-Mustafid. Pada hakikatnya, karya ini
merupakan terjemahan Melayu dari kitab tafsir yang lain, yaitu tafsir
al-Jalalain. Karya ini diselesaikan oleh muridnya, Daud Rumi, dan beberapa pengarang
belakangan lainnya, dengan mengambil agak banyak bagian dari tafsir al-Baidawi
dan al-Kazin.[23]Walaupun
kitab ini tergolong sebagai tafsir, tetapi Braginsky (1998) menganggapnya
sebagai terjemahan lengkap Al-Qur‘an dalam bahasa Melayu yang pertama, yang
seperti lazimnya berbentuk sebagai tafsir dan bukan karangan eksegesis yang
rinci.
4. Sastra
Walaupun kuatrin terpisah-pisah, yang tidak
lain merupakan bait-bait syair, terkadang terdapat dalam Bustan as-Salatin
karya Nuruddin al-Raniri, tetapi penerus tradisi penulisan “syair
religius-mistik” adalah Abdul Rauf Singkel. Braginsky (1998: 491-484) telah
membahas syair-syair tesebut dan menyimpulkan bahwa dalam syair-syairnya, Abdul
Rauf Singkel menegaskan tentang Sifat Kekekalan (Kadim) Tuhan di satu pihak,
dan sifat kemakhlukan (muhadas) manusia di pihak lain, yang menyebabkan
adanya perbedaan mutlak di antara keduanya. Jadi, karya sastra Abdul Rauf yang
berupa syair ini masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan keyakinan
tasawufnya.
Dalam sebuah naskah yang disalin di Bukit
Tinggi pada 1859, diberitakan bahwa Abdul Rauf-lah yang telah mengarang Syair
Makrifat. Dalam syair ini, dibahas tentang empat komponen agama Islam,
yaitu iman, Islam, tauhid, dan makrifat, dan tentang makrifat sebagai pengenalan
sufi yang memahkotai keempat komponen itu. Syair ini juga menegaskan bahwa
hanya orang yang paham akan makna semuanya yang layak disebut sebagai orang
yang telah menganut agama yang sempurna.
Karya ini, yang diubah kurang lebih sezaman
dengan perluasan syair dari bidang puisi agama ke bidang-bidang sastra lainnya,
terutama “sastra sejarah” seperti Syair Perang Mengkasar, dari beberapa
segi sangat membenarkan tentang adanya pengaruh karya-karya Hamzah Fansuri.
Pengaruh ini bukan saja terhadap kelahiran syair saja, tetapi juga
perkembangannya, mulai dari syair-syair singkat yang mirip dengan gazal sampai
ke syair-syair panjang yang terdiri dari beberapa ratus stanza atau bahkan
lebih banyak lagi. Bahwa Syair Makrifat penuh dengan parafrase dari
karya-karya Hamzah Fansuri, sama sekali tidak mengherankan jika mengingat bahwa
Abdul Rauf sendiri dengan bangga menegaskan asal-usulnya yang “dari bangsa
Hamzah Fansuri”. Contoh gema citra-citra Hamzaf Fansuri tersebut adalah berikut
ini:
Gema citra-citra Hamzah Fansuri dalam Syair
Makrifat
Sumber: Braginsky, 1998: 492
Yang juga menarik dalam syair ini adalah
perkembangan selanjutnya pada citra simbolis Hamzah Fansuri yang lain, yaitu
citra pohon, yang memainkan peranan sangat penting dalam karya-karya Hamzah
Fansuri. Dalam Syair Makrifat, pohon melambangkan kesatuan empat komponen
agama menurut Abdul Rauf :
“Fakir khabarkansuatupendapat,
Tatkalamencariilmuma’rifat,
Sepohonkayucabangnyaempat,
Buahnyadiambiltiadadapat.
Kayunyatinggibukankepalang.
Buahnyabanyaktiadaterbilang,
Warnanyaindahamatcemerlang,
Hendakdiambildibawapulang.
Adalahibarat fakir yang hina,
Sepohonkayutiadasempurna,
Cawing dandahantiadaberguna.
Jikalausempurnapohonitu,
Cawangdandahanterhimpun situ,
Buahdanbunga di sanalahtentu,
Bailah fakir hati di situ.
Baik-baikkitatuanmenerima,
Kepadapohonnyaialahsempurna,
Daundanbuahtiadasama,
Masing-masingberlainannama.
(Iskandar dalam Braginsky, 1998: 492-493).
Lambang pohon, di samping lambang perahu (atau
kapal), burung dan rumah (atau tempat pemjuaan), merupakan salah satu “simbol
besar” yang terpenting dalam tasawuf Melayu. “Simbol besar” ini, yang
melambangkan suatu keutuhan yang berkembang secara organis, berperanan antara
lain sebagai sarana untuk memadukan simbol-simbol yang lebih khusus (“simbol
kecil”). Dalam kesatuan yang tak terpisah-pisahkan. “Simbol besar” ini juga
besar arti pentingnya sebagai alat untuk musyahadah (meditasi sufi).
Adapun “simbol-simbol kecil” mewujudkan pengertian yang berkorelasi dengan
bagian-bagian pohon, yaitu cabang, daun, bunga, dan lain-lain.
Ciri khas lain dari Syair Makrifat ini
adalah sifat kehati-hatian dan kecermatan Abdul Rauf dalam pengungkapan ide-ide
tasawuf, yang umumnya dianggap sebagai khas baginya, sebagai mubaligh tasawuf
yang selalu asing dari ekstrimitas apapun. Untuk membuktikan kesimpulan
tersebut, cukuplah dengan membandingkan bagaimana Abdul Rauf dan Hamzah Fansuri
menafsirkan hadis yang masyhur ini: “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri (Man
‘arafa nafsahu), dia pun mengenal Tuhannya (Fa-qad‘arafa Rabbahu)”.
C. Karya-karyanya
Oman Fathurrahman (dalam Osman, 1997: 242)
mencatat tidak kurang dari 36 kitab berkenaan dengan fikih dan syariat,
tasawuf, dan tafsir Al-Qur‘an dan hadis, di antaranya adalah:
1. Daka‘ik al-Huruf (Kehalusan-kehalusan Huruf), dikutip dalam al-Tuhfa
al-mursala ila ruh al-nabi, risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di
Jawa.
2. Tafsir Baidhawi (terjemahan, 1884, diterbitkan di Istambul).
3. Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik
al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara‘ dari
Tuhan, bahasa Melayu).
4. Umdat al-muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Pijakan bai Orang-orang yang Menempuh Jalan
Tasawuf).
5. Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi (Pedoman bagi Penempuh Tarekat al-Qusyasyi,
bahasa Arab).
6. Bayan al-Arkan (Penjelasan tentang Rukun-rukun Islam, bahasa Melayu).
7. Bidayah al-Baligah (Permulaan yang Sempurna, bahasa Melayu).
8. Sullam al-Mustafiddin (Tangga Setiap Orang yang Mencari Faedah, bahasa
Melayu).
9. Piagam tentang Zikir (bahasa Melayu).
10. Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawy.
11. Syarh Latif ‘Ala Arba‘ Hadisan li al-Imam al-Nawawiy (Penjelasan Terperinci atas Kitab empat Puluh
Hadis Karangan Imam Nawawi, bahasa Melayu).
12. Al-Mawa‘iz al-Ba‘diah (Petuah-petuah Berharga, bahasa Melayu).
13. Kifayat al-Muhtajin.
14. Bayan Tajilli (Penjelasan tentang Konsep Manifestasi Tuhan).
15. Syair Makrifat.
16. Al-Tareqat al-Syattariyah (Untuk Memahami jalan Syattariyah).
17. Majmu al-Masa‘il (Himpunan Petranyaan).
18. Syam al-Ma‘rifat (Matahari Penciptaan).
D. Pengaruhnya dari Kemajuan Ilmu dan Masyarakatnya.
Syeh Abdul Rauf Singkel memiliki banyak murid
yang tersebar di kepulauan Nusantara. Dua muridnya juga masyhur, yaitu Syeh
Jamaluddin al-Tursani dan Syeh Yusuf al-Makasari. Jamaluddin al-Tursani adalah
seorang ahli hukum ketatanegaraan terkenal dan pernah menjadi Kadi Malik
al-Adil di istana Aceh pada awal abad ke-18 M. Ia terkenal berkat karya hukum
ketatanegaraannya yang komprehensif, Syafinat al Hukam (Bahtera Para
Hakim), yang merupakan perluasan baik terhadap Taj al-Salatin maupun Bustan
al-Salatin. Sedangkan Syeh Yusuf al-Makasari adalah seorang ulama dari
Makassar. Ulama inilah yang mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa dalam
perjuangannya melawan kolonialisme Belanda.[24]
Pada saat Abdul Rauf menjadi mufti, Aceh
adalah kesultanan yang sangat penting di dunia Melayu karena menjadi tempat
persinggahan para jemaah haji. Orang dari Jawa dan daerah lain di Indonesia
yang pergi naik haji, harus singgah di Aceh. Sewaktu di Aceh, tidak sedikit
pula dari jemaah haji belajar agama dan ilmu tasawuf kepada Abdul Rauf.[25]
Mungkin inilah sebabnya tarekat Syattariyah agak populer di Jawa dan nama Abdul
Rauf sering disebut dalam silsilah tarekat tersebut. Sebuah karangan Abdul
Rauf, yaitu Dakai‘ik al-Huruf, dikutip dalam al-Tuhfa al-mursala ila
ruh al-nabi, sebuah risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di Jawa.[26]
Bersama
dengan Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel menunjukkan bahwa Islam,
sebagaimana yang dipraktekkan di Asia Tenggara, adalah bagian dari pasang surut
gagasan dan praktek religius dan mistisisme di dunia. Gagasan dan praktek ini
berakar pada Al-Qur‘an dan kehidupan komunitas Islam awal, tetapi kemudian
berkembang ke berbagai arah yang berbeda-beda. Perdebatan yang terjadi di Aceh,
dan juga di dunia Melayu pada umumnya, tidak bersifat unik bagi daerah ini
saja, karena telah muncul juga di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Menurut
Piah dkk (2002), Aceh menangkap gagasan dan praktek-praktek ini dan
mengeskpresikannya dengan cara yang rumit dan menantang bagi kaum Muslim yang
memahami keimanan mereka melalui medium bahasa Melayu.
Ia
memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan
Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku
Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).
[1]Rinkes, D.A., Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de
mystiek op Sumatra en Java. Ph.D. diss., Leiden, 1909.
[7]Braginsky, 1998: 474
[16]Abdul Hadi WM, 2006: 241.
[18]Abdul Hadi WM, 2006: 244-245.
[22]Ali Hasmy dalam Abdul Hadi WM, 2006: 243
[24]Abdul Hadi WM, 2006: 246.
[25]A.H. Johns dalam Liaw Yock Fang, 1975: 197
Tidak ada komentar:
Posting Komentar